- by 27DERAJAT.COM
- May, 16, 2025 01:16
FAKTUALSUMSEL - Pertanyaan “Sumsel alamnya dikeruk terus menerus, bagaimana ke depan?” adalah kegelisahan yang sangat wajar. Sumatera Selatan memang dikenal sebagai salah satu daerah kaya sumber daya alam: batu bara, migas, perkebunan sawit, hingga hasil hutan. Namun jika eksploitasi tak diimbangi tata kelola yang bijak, dampaknya bisa panjang—baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan.
Selama dua dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi Sumsel banyak ditopang sektor ekstraktif. Batu bara dari wilayah seperti Muara Enim menjadi komoditas andalan ekspor. Perkebunan sawit terus meluas. Industri migas juga masih beroperasi di beberapa titik.
Namun pola “keruk–jual–habis” memiliki risiko besar:
Kerusakan lingkungan: deforestasi, lubang bekas tambang, pencemaran sungai.
Banjir dan kebakaran hutan/lahan yang makin sering.
Ketimpangan ekonomi: daerah kaya tambang belum tentu masyarakatnya sejahtera.
Ketergantungan ekonomi pada komoditas mentah yang harganya fluktuatif.
Jika tidak ada perubahan arah kebijakan, 10–20 tahun ke depan Sumsel bisa menghadapi krisis lingkungan sekaligus jebakan ekonomi pasca-tambang.
Sumber daya tidak terbarukan akan habis.
Batu bara dan migas bukan sumber abadi. Ketika cadangan menipis, daerah yang tidak menyiapkan diversifikasi ekonomi akan terpukul.
Tekanan global terhadap energi fosil.
Dunia sedang bergerak ke energi hijau. Permintaan batu bara bisa turun dalam jangka panjang.
Perubahan iklim dan bencana ekologis.
Sumsel pernah mengalami krisis kabut asap besar. Jika tata kelola lahan tidak diperbaiki, kejadian serupa bisa berulang.
Ada beberapa skenario dan langkah strategis yang bisa ditempuh:
Bukan sekadar menjual bahan mentah, tetapi mengolahnya di dalam daerah. Industri turunan bisa menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan asli daerah.
Mengembangkan:
Energi terbarukan (surya, biomassa)
Pertanian berkelanjutan
Ekowisata
Industri kreatif dan UMKM berbasis lokal
Sumsel punya potensi sungai, rawa, dan keanekaragaman hayati yang bisa dikembangkan tanpa merusak alam.
Setiap perusahaan tambang wajib:
Menutup dan merehabilitasi lubang bekas tambang
Mengembalikan fungsi lahan
Transparan dalam pengelolaan dana jaminan reklamasi
Tanpa pengawasan ketat, regulasi hanya akan jadi dokumen. Pemerintah daerah dan aparat penegak hukum harus memastikan:
Tidak ada tambang ilegal
Tidak ada pembukaan lahan liar
Tidak ada pembakaran hutan
Yang paling penting: membangun manusia Sumsel. Pendidikan, pelatihan vokasi, dan kewirausahaan harus jadi prioritas agar generasi muda tidak hanya bergantung pada sektor tambang.
Jika eksploitasi terus berjalan tanpa arah perubahan, Sumatera Selatan berisiko mengalami kerusakan lingkungan serius dan perlambatan ekonomi saat sumber daya habis.
Namun jika momentum sekarang dimanfaatkan untuk berbenah—beralih ke ekonomi berkelanjutan, memperkuat hilirisasi, dan menjaga ekologi—Sumsel justru bisa menjadi contoh provinsi kaya sumber daya yang berhasil melakukan transformasi.
Pertanyaannya bukan lagi “alamnya dikeruk terus,” tetapi apakah kita siap mengubah cara mengelolanya?
Kalau Anda mau, saya bisa bantu buatkan ini dalam format berita opini yang lebih panjang dan tajam untuk publikasi media.(*)