- by 27DERAJAT.COM
- Mar, 16, 2025 04:18
PALEMBANG – Di era serba digital seperti sekarang, anak-anak sudah akrab dengan layar komputer sejak usia dini. Baik untuk belajar, bermain gim, maupun berselancar di internet, kegiatan ini sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. Namun di balik kemudahan teknologi, para ahli mengingatkan bahwa penggunaan komputer tanpa pengawasan dapat menimbulkan dampak negatif bagi tumbuh kembang anak.
pentingnya kesadaran orang tua dalam mendampingi anak saat menggunakan perangkat digital. Teknologi itu bermanfaat, tetapi jika digunakan tanpa batas dan tanpa kontrol, bisa menimbulkan kecanduan serta gangguan pada kesehatan mata dan mental anak..
Salah satu risiko terbesar adalah paparan layar dalam waktu lama. Menurut penelitian, anak yang terlalu lama menatap layar komputer rentan mengalami gangguan penglihatan seperti mata kering, rabun jauh, dan kelelahan visual. Karena itu, para dokter mata menyarankan agar anak diberi waktu istirahat setiap 20–30 menit untuk mengistirahatkan mata mereka.
Selain faktor kesehatan fisik, keamanan digital juga menjadi perhatian utama. Dunia maya menyimpan banyak konten yang tidak pantas untuk anak, mulai dari kekerasan, ujaran kebencian, hingga penipuan daring. Oleh sebab itu, orang tua disarankan mengaktifkan fitur Parental Control atau pengawasan orang tua pada sistem operasi dan browser komputer. Fitur ini membantu memfilter situs berbahaya dan membatasi waktu penggunaan.
Ahli psikologi anak , menambahkan bahwa pola pengawasan harus bersifat dialogis, bukan represif. Anak jangan hanya dilarang, tapi juga diajak bicara dan diajarkan cara menggunakan komputer secara sehat dan produktif. Misalnya dengan menonton video edukasi, menggambar digital, atau membuat presentasi sekolah.
Di sisi lain, pembatasan waktu layar (screen time) sangat penting diterapkan secara konsisten. American Academy of Pediatrics merekomendasikan anak usia 6–12 tahun hanya boleh menggunakan layar maksimal dua jam per hari di luar kegiatan sekolah. Orang tua perlu menegakkan aturan ini dengan contoh nyata — misalnya ikut mengurangi penggunaan gawai ketika sedang bersama anak.
Sekolah-sekolah di Palembang pun mulai aktif melakukan edukasi literasi digital bagi siswa dan wali murid. Program ini bertujuan menanamkan kesadaran sejak dini tentang etika berinternet, privasi data, dan keamanan online. Dengan begitu, anak-anak diharapkan tumbuh menjadi pengguna teknologi yang cerdas, bukan korban dari kemajuan digital.
Selain itu, posisi tubuh dan pencahayaan saat menggunakan komputer juga berpengaruh besar terhadap kesehatan anak. Komputer sebaiknya ditempatkan di ruang keluarga dengan penerangan cukup dan tinggi layar sejajar dengan mata. Hal ini dapat mengurangi risiko nyeri leher, punggung, serta postur tubuh yang buruk akibat posisi duduk yang salah.
Yang tak kalah penting, orang tua harus menjadikan aktivitas digital sebagai bagian dari interaksi keluarga, bukan pengganti. Dengan mendampingi anak saat bermain atau belajar di depan komputer, orang tua bisa memberikan arahan langsung, sekaligus memperkuat kedekatan emosional. Anak pun merasa lebih aman dan percaya diri ketika menjelajah dunia maya.
Dengan pengawasan yang tepat, edukasi berkelanjutan, dan penggunaan teknologi secara bijak, komputer dapat menjadi alat belajar yang luar biasa bagi anak-anak. Bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga jendela untuk mengembangkan kreativitas, keterampilan, dan pengetahuan — tentu dengan catatan, keselamatan dan keseimbangan tetap menjadi prioritas utama.(FDL/*)