- by 27DERAJAT.COM
- May, 16, 2025 01:16
Palembang — Gubernur Sumatera Selatan menegaskan bahwa keberanian menjadi kunci utama dalam membangun layanan kesehatan berkelas sekaligus menjadikannya bagian dari pengembangan pariwisata daerah. Hal itu disampaikan dalam sebuah acara pencanangan yang dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Sumsel, para kepala OPD, pimpinan organisasi, asosiasi rumah sakit negeri dan swasta, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Bidan Indonesia, para guru besar, dokter spesialis dan konsultan, hingga para pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan.
Dalam sambutannya, Gubernur menyebut acara tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan langkah besar yang sarat makna dan tanggung jawab. Ia menyebut, sejak awal menjabat pada 2018, dirinya telah melihat dua potensi besar Sumatera Selatan yang belum dimaksimalkan sepenuhnya, yakni infrastruktur kesehatan dan sumber daya manusia (SDM). “Kita punya rumah sakit, punya dokter, punya spesialis dan subspesialis yang tidak kalah dengan luar negeri. Pertanyaannya sederhana, apa yang membuat kita tidak berani?” ujar Gubernur dengan nada reflektif.
Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk jujur bertanya kepada diri sendiri. Menurutnya, keberanian menyatakan siap melayani masyarakat adalah bentuk kematangan mental dan profesionalisme. Kehadiran seluruh unsur kesehatan pada acara tersebut dinilainya sebagai simbol bulatnya tekad untuk memberikan pelayanan terbaik kepada publik.
Gubernur juga menyoroti pentingnya kepercayaan dalam layanan kesehatan. Menurutnya, baik layanan promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif, semuanya membutuhkan keyakinan dari masyarakat. Keyakinan itu bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga siapa yang memberikan layanan, bagaimana transparansi biayanya, dan seberapa cepat serta tepat pelayanannya. “Kalau orang mau berobat, dia pasti tanya: rumah sakit apa, dokternya siapa, biayanya berapa, dan berapa lama,” katanya.
Ia kemudian membandingkan kondisi Sumsel dengan Bali. Meski mengakui Sumsel tidak memiliki alam dan budaya seperti Bali, Gubernur menilai Bali berhasil karena berani mempertahankan keunggulannya dan menjualnya secara konsisten. Bahkan, salah satu kabupaten di Bali memiliki APBD yang lebih besar dari provinsinya sendiri karena kekuatan sektor pariwisata. “Sumsel ini menonjol di SDM. Guru besar kita banyak, spesialis kita hebat. Bahkan perawat kita dikirim ke luar negeri. Artinya kita cakap dan pantas,” tegasnya.
Namun demikian, Gubernur menilai masih ada persoalan mendasar yang harus dibenahi, yakni transparansi layanan. Ia mencontohkan fenomena masyarakat, termasuk pejabat, yang memilih berobat ke luar negeri karena sejak awal sudah mengetahui estimasi biaya, waktu pelayanan, hingga hasil pemeriksaan. “Bukan soal sembuh atau tidak, itu urusan Tuhan. Tapi orang butuh kepastian dan kejelasan,” ujarnya.
Ia menilai, selama ini promosi justru dilakukan secara tidak langsung oleh agen perjalanan yang menawarkan paket berobat ke luar negeri secara lengkap. Sementara di daerah sendiri, layanan kesehatan belum dikemas dan dipromosikan dengan baik. “Kita ini sebenarnya mampu, tapi tidak percaya diri. Kita lebih sibuk mempromosikan orang berobat ke luar negeri daripada berani menjual layanan kita sendiri,” katanya lugas.
Gubernur pun mendorong agar ke depan, promosi pariwisata tidak hanya menonjolkan alam dan kuliner, tetapi juga layanan kesehatan dan estetika. Ia menyebut, layanan kesehatan tidak selalu soal penyakit berat, tetapi juga estetika dan kecantikan yang selama ini justru menjadi daya tarik negara lain. “Kita punya, tapi tidak pernah kita promosikan,” tambahnya.
Menurut Gubernur, pencanangan health tourism ini harus melibatkan semua pihak, mulai dari rumah sakit, tenaga kesehatan, biro perjalanan, hingga sektor pariwisata. Tujuannya bukan hanya mendatangkan pasien, tetapi membangun ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa pencanangan ini juga berarti kesiapan untuk melakukan revolusi pelayanan. “Yang lambat kita percepat, yang mahal kita tekan, yang kurang baik kita perbaiki,” katanya.
Menutup sambutannya, Gubernur mengingatkan bahwa tanggung jawab pencanangan ini tidak berhenti di atas panggung. Masyarakat akan menilai langsung di lapangan, dari pelayanan terdepan hingga sistem pembayaran. “Kalau kita sudah berani mencanangkan, maka kita juga harus berani bertanggung jawab,” pungkasnya.
Pencanangan ini menjadi penanda keseriusan Sumatera Selatan untuk melangkah menuju health tourism, dengan keyakinan bahwa daerah ini memiliki modal besar—tinggal keberanian, transparansi, dan kerja bersama untuk mewujudkannya.(dil)