- by 27DERAJAT.COM
- May, 16, 2025 01:16
JAKARTA — Peran Perpustakaan Nasional Republik
Indonesia (Perpusnas) sebagai mitra pemerintah daerah. Perpusnas yang hadir
untuk merespons kebutuhan riil pengembangan perpustakaan, literasi, serta
pelestarian khazanah budaya lokal.
Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Sumatera Selatan, Fitriana, S.sos., M.Si dalam audiensi di Perpusnas, menyampaikan
pengembangan Galeri Naskah Kuno yang tengah disiapkan.
“Galeri Naskah Kuno fokus pada aksara Ulu,
aksara Jawa, dan aksara Arab. Selain itu, kami berencana pengembangan galeri
budaya Sumatera Selatan melalui perangko sebagai bagian dari upaya pelestarian
sejarah dan budaya,” bebernya.
Fitriana juga menyebut, setelah menghadiri acara Launching Buku “Selayang
Kemilau Bumi Lima Negeri” oleh Menteri Kebudayaan RI Bapak Fadli Zon di
Auditorium Perpusnas RI, Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Sumsel beserta
rombongan langsung beraudiensi dengan Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka
dan Jasa Informasi Perpusnas RI. Audiensi ini Dalam rangka Pengembangan Galeri
Naskah Kuno Dinas Perpustakaan Provinsi Sumsel. Bagi pihak Perpusnas, audiensi
tersebut dipandang sebagai upaya menyelaraskan program nasional dengan
kebutuhan daerah.

Audiensi diterima Deputi Bidang Pengembangan
Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, di Gedung Perpusnas,
Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Dalam audiensi tersebut, Suharyanto menegaskan “Perpusnas hadir untuk mendengar dan merespons kebutuhan daerah. Apa yang menjadi kebutuhan Sumatera Selatan, kita carikan skema kolaborasinya agar bisa segera ditindaklanjuti,” ujarnya.
Menjawab kebutuhan Sumatera Selatan dalam pelestarian naskah kuno, Perpusnas menanggapi rencana pengembangan Galeri Naskah Kuno Sumatera Selatan. Suharyanto menyatakan dukungan Perpusnas melalui penyediaan koleksi digital naskah kuno yang relevan.
“Kami sangat mendukung Galeri Naskah Kuno. Perpusnas memiliki berbagai koleksi digital, termasuk naskah kuno terkait Sumatera Selatan seperti Cerita Panji atau Raden Inu Kertapati. Nanti yang khusus Sumsel akan kami siapkan,” terangnya.
Dukungan tersebut juga mencakup peluang kolaborasi dalam bentuk pameran virtual untuk memperluas akses publik terhadap khazanah budaya Sumatera Selatan. “Bila perlu, nanti kita buatkan pameran virtualnya. Kami bisa ikut berpartisipasi,” sambungnya.
Perpusnas juga membuka akses pemanfaatan koleksi lain yang dimiliki, seperti filateli, foto, peta, dan bahan pendukung lain untuk mendukung penulisan dan penguatan budaya Sumatera Selatan. “Sebelum ke tempat lain, silakan manfaatkan dulu koleksi Perpusnas, termasuk yang ada di layanan filateli dan peta,” paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Suharyanto menjelaskan bahwa pada tahun berjalan
Perpusnas tidak memiliki anggaran pengadaan buku, baik tercetak maupun digital,
Karena itu, pengembangan koleksi mengandalkan mekanisme deposit.
Walaupun demikian, ia menyampaikan bahwa masyarakat tetap dapat mengakses beragam koleksi digital Perpusnas melalui berbagai portal, termasuk e-Resources (jurnal, ebook, referensi), iPusnas, Khastara, Indonesia OneSearch (IOS), dan platform pelatihan PANDAWA.
Ia pun memaparkan praktik-praktik baik yang telah dilakukan Perpusnas dalam pelestarian dan pemanfaatan naskah Nusantara melalui alih media, alih wahana, serta promosi berkelanjutan berbasis kolaborasi.
Dalam kesempatan tersebut, Suharyanto
menjelaskan bahwa langkah awal yang dilakukan Perpusnas adalah alih media
koleksi ke bentuk digital yang dapat diakses melalui platform Khastara. Ia
menegaskan bahwa instansi atau mitra dapat memanfaatkan koleksi digital yang
telah tersedia di Perpusnas tanpa perlu melakukan digitalisasi ulang.
“Ketika sudah ada di Perpusnas, gunakan yang
ada di sini. Tidak perlu lagi melakukan digitalisasi,” ujarnya.
Selain alih media, Perpusnas juga melakukan alih wahana terhadap naskah-naskah kuno dengan mengemas ulang konten menjadi bahan bacaan yang lebih ramah bagi masyarakat, termasuk anak-anak. Bentuk alih wahana tersebut antara lain komik serta alih saduran dari karya-karya sastra lama. Saat ini, Perpusnas telah memiliki sekitar 40 judul sastra lama dalam bentuk digital yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan galeri dan edukasi.
Pada tahun sebelumnya, ia mengungkap bahwa Perpusnas juga menjalankan program Meta Perpustakaan, yakni produksi video pendek yang mengulas koleksi-koleksi unik, langka, dan bersejarah dengan pendekatan santai agar lebih mudah diterima generasi muda.
Di sela diskusi terkait pelestarian buaya, Fitriana juga menjelaskan berbagai program literasi yang telah dijalankan, seperti pekan literasi yang mencakup literasi bahasa isyarat, literasi budaya, literasi digital, hingga literasi keuangan, dengan melibatkan berbagai mitra. Ia juga memaparkan sinergi lintas perangkat daerah melalui Gerakan Mandiri Pangan, yang mendorong aktivitas bercocok tanam di kantor, sekolah, dan rumah sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat.
“Antusiasme masyarakat sangat tinggi, terutama pada pekan literasi bahasa isyarat. Ini menjadi peluang besar untuk disinergikan dengan program nasional Perpusnas,” ungkapnya.
Lebih jauh, Fitriana memaparkan praktik baik pengembangan literasi di daerah melalui festival literasi yang secara konsisten diselenggarakan setiap tahun. “Festival literasi kami melibatkan 17 kabupaten/kota dan setiap tahun mengangkat tema yang berbeda. Dukungan pemerintah daerah sangat kuat, termasuk keterlibatan langsung bupati, wali kota, dan Bunda Literasi,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, penetapan Bunda Literasi di
tingkat kabupaten/kota menjadi strategi efektif untuk mendorong kolaborasi
lintas perangkat daerah serta memperkuat dukungan kebijakan dan anggaran bagi
program literasi.
Kepala Bidang Pelestarian Dinas Perpustakaan Provinsi Sumatera Selatan, Romdoni Iqbal, menambahkan bahwa kolaborasi melalui Bimbingan Pemustaka daring dinilai relevan untuk memperluas pemanfaatan koleksi digital oleh masyarakat daerah. “BP Online memungkinkan bimbingan menjangkau masyarakat secara lebih luas, tidak hanya di Jabodetabek, tetapi di seluruh Indonesia,” sebutnya.
Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan Dinas Perpustakaan Provinsi Sumatera Selatan Amir Sutisna, serta Kepala Bidang Deposit, Pengembangan Koleksi, dan Pengolahan Bahan Perpustakaan Dinas Perpustakaan Provinsi Sumatera Selatan Dewi Kencanawati. (Adv)