- by 27DERAJAT.COM
- Mar, 21, 2025 03:13
PALEMBANG-Warga Kota Palembang resah dengan sistem pengelolaan Jakabaring Sport City (JSC) Palembang, Provinsi Sumsel, karena menjamin kenyamanan dan keamanan akibat sejumlah aksi kriminalitas.
Masyarakat berharap, sejumlah kasus kriminalitas akibat minimnya pengawasan dan pengamanan tersebut, menyebabkan atensi perbaikan dini.
Sejumlah bahkan nasional, internasional maupun lokal sering kali diselenggarakan di JSC yang menjadi ikon wilayah Provinsi Sumsel dengan segudang kelengkapan fasilitas yang mumpuni. Namun masalah aksi kriminalitas dan jaminan keamanan masih sering ditanyakan sejumlah pengunjung.
Mulai dari hilangnya kendaraan diparkiran, hingga kasus keterlibatan terhadap pengunjung yang menonton sejumlah pertandingan maupun menghadiri sejumlah event yang diadakan di wilayah tersebut.
Kasus yang dialami yakni M Gilang Mardiansyah (23) warga Jalan KH Azhari Lorong Amal Setia Kecamatan SU II Palembang pada 27 September 2025,
niat hati hendak menonton pertandingan sepak bola di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ) Palembang, pada Sabtu 27 September 2025, pergi naik motor pulang justru dipaksa jalan kaki akibat kendaraan yang diparkirnya hilang dicuri.
Padahal saat masuk ke JSC dia membeli tiket dengan pengawasan ketat namun setelah di dalam wilayah JSC masih tidak aman dan menjadi korban curanmor. Meski kasus itu berakhir damai, namun tetap menjadi sorotan betapa rentannya keamanan dan kenyamanan di wilayah JSC Palembang.
Sejumlah warga banyak mengulas kasus Gilang tersebut, mulai dari penjaringan fungsi tiket, peran keamanan dan keamanan, hingga tanggung jawab pengelola GSJ itu sendiri.
Seperti yang diungkap Hary warga pelaju, Palembang. Dia mengatakan pentingnya pihak keamanan dan pengelola harus mengunduh penuh terhadap sejumlah kejadian itu.
“Kalau ada pungutan parkir resmi, tentunya harus menjadi tanggung jawab pengelola. Dulu sudah ada kasus seperti kendaraan hilang, dibawa ke pengadilan dan menang,” ujarnya.
Pihaknya menyarankan pengunjung yang mendapat gangguan keamanan dan kenyamanan di seputaran JSC tidak sungkan sungkan mengajukan tuntutan. “Konsekwensi logistik dari parkir yang kita bayar adalah pengelola wajib menjaga,” jelasnya.
Berbeda lagi dengan kasus kemanan pengeroyokan dan penikaman yang pernah terjadi di JSC. Masyarakat mengaku sangat tidak nyaman dengan hal hal anarkis dan mesti menjadi intropeksi pihak pengelola.
"Mestinya memastikan dari scurity stadion nian keamanan di dalam JSC. Jangan sampai Ado yang Bawak lading (Sajam,red), ke dalam mesti di cek nian. Scurity jugo harus siap kalau Ado yang ribut ribu, harus cepat di respon jangan sampai dibiarkan," ungkap M Ali warga lainnya.
Pihaknya berharap, kedepannya masalah keamanan di JSC bisa dilakukan perbaikan sehingga lebih profesional dan bisa ditangani secara maksimal. Seperti penggunaan pihak ke tiga, semua keamanan harus bersertifikasi. “Satpam yang bekerja mungkin banyak yang belum tersertifikasi sebagai Satpam, sehingga masih banyak kelalaiannya dalam hal tanggungjawab sebagai pengamanan,” ulasnya.(Zul)